Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
Refleksi di Akhir tahun 2011
"Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah! Semoga para samasaudara kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi. Para anggota Serikat Sabda Allah harus menghormati Kitab Suci secara istimewa dan menyebarluarkan kebenarannya."
(Arnoldus Janssen)

"FirmanMu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil" (Mzm 119:105-106)


Sesudah Satu Tahun Berjalan
 
   
 
+ oleh Aurelius Pati Soge, SVD +
 
    Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. (Mat 10:27)
 

Suatu hari di Bukit Indah Sukajadi

“Mari bertolak ke tempat yang lebih dalam” (Luk 5:4). Demikian seruan pembukaan yang saya ungkapkan dalam misa pada hari Sabtu, 29 Januari 2011, di Bible Centre, Sukajadi, Batam. Sesuai dengan tujuan perutusanku ke Pulau Batam, hari itu saya memulai pelayanan Kitab Suci di TIRTA WACANA: SVD Bible Centre, Sukajadi. Nama Tirta Wacana dipilih sebagai satu ungkapan adanya harapan, agar di masa depan tempat ini menjadi oase rohani bagi orang-orang yang haus akan Firman Tuhan.

Sejak didirikan tahun 2004, Bible Centre sudah mencoba berbenah diri agar bisa menjawabi kebutuhan umat dalam bidang kerasulan Kitab Suci. Namun ada banyak tantangan yang menghalangi perwujudan kerasulan itu. Pertengahan tahun 2010, Superior Provinsi SVD Jawa menawarkan pelayanan ini kepada saya. Kendatipun tidak secara khusus studi Kitab Suci, saya menerima tantangan ini. Sekian tahun saya secara mandiri belajar Kitab Suci dan memberi sumbangan bagi pelayanan Kitab Suci melalui media publikasi buku Berjalan Bersama Sang Sabda. Bekal itu saja belum cukup tetapi dengan senang hati saya mau berpartisipasi di garis depan misi Batam, khusus ke pelayanan di bidang ini. Dengan segala kekurangannya, pelayanan Kitab Suci dimulai di tempat ini. Tanggal 29 Januari dengan sengaja dipilih untuk mengenang dan memohon perlindungan St. Yoseph Freinademetz, misionaris agung SVD yang berkarya di China tanpa sekalipun kembali ke tanah asalnya, Tirol, Austria.


Mengapa “Duc in altum” ?

Sengaja saya memilih ucapan Yesus di atas yang ditujukan kepada Petrus dalam peristiwa di Danau Genazaret. Yesus mengajak Petrus bertolak ke tempat yang lebih dalam, untuk berbuat hal yang sudah biasa dilakukan Petrus tapi dengan pemahaman yang berbeda. Bertolak ke tempat yang lebih dalam, apa yang baru buat Petrus? Menebar jala untuk menangkap ikan, apa istimewanya? Ia seorang nelayan professional. Namun kehadiran Yesus telah memberi arti baru. Petrus mengalami pertobatan dan pembaharuan iman. Menjala ikan memperoleh dimensi baru yakni menjala jiwa-jiwa.

“Ayo bertolak ke tempat yang lebih dalam”, demikian semboyan yang kupikir tepat untuk memulai pelayanan Kitab Suci di awal tahun 2011 ini. Mengapa demikian? Saya percaya, bahwa banyak orang yang ingin mengikuti program studi Kitab Suci ini sudah secara pribadi membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kendatipun sedikit ketinggalan dari umat Kristen lainnya, umat Katolik juga menunjukkan perkembangan yang berarti. Maka pelayanan di tempat ini bukan sesuatu yang sama sekali baru, melainkan suatu tradisi lama yang coba diberi dimensi baru. Karena itu hakekat pelayanan bukan pada pengajaran atas dasar metode menulis di atas kertas kosong melainkan membaca dan memberi makna pada kertas-kertas yang sudah tertulis tetapi terserak ke mana-mana menuruti jalannya sendiri. Saya tidak mengajarkan sesuatu yang baru tetapi menawarkan peziarahan bersama anak-anak Tuhan agar semakin dalam mencintai SabdaNya.

 
 
 
 
 
 
Awal kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan, dan bersama dengan orang setiawan diciptakan dalam kandungan ibu mereka. Laksana dasar abadi ia telah bersarang di tengah-tengah manusia, dan dengan setia tinggal pada keturunan mereka. (Sir 1:14-15)
 
 
 
 
 
 
  Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan (Mz 119:15-16)
 
 
 
 
 
 
 

"Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia" (Yes 55:10-11)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Menjunjung langit menginjak bumi

Kendatipun tekad awal adalah “peziarahan bersama umat”, tendensi mengggurui masih sangat kental (hehe… penyakit lama kumat deh!). Refleksi bersama yang dijalani setiap hari Selasa itu agak kehilangan pamornya. Peserta yang setia hanya belasan orang, yang lain-lain satu per satu meninggalkan kegiatan. “Terlalu berat. Kepala saya tak bisa menangkapnya”, demikian kesan seorang bapa, sebut saja namanya Lion Sai (nama asli disembunyikan nih, nanti orangnya marah. Hehe!) “Kalau cara Romo begini terus, lama-lama orang akan pergi”, kata sahabatku Mas Untung tanpa tedeng aling-aling. Dasar wong Suroboyo! Tapi dia benar, kok. Kalau begitu memang harus diubah nih. Benih ini baru ditanam, mulai nampak kecambahnya, sayang kan kalau sampai kering dan mati?

Bersama sejumlah teman refleksi jujur dan terbuka dimulai. “Yang kami perlukan ialah pengajaran-pengajaran praktis yang menjawabi situasi setiap hari”, kata Bpk. Stefanus Santoso yang kami gelari "uskup sukajadi." “Kami berhadapan dengan umat Gereja lain yang begitu getol dan fasih mengutip ayat-ayat Alkitab. Kita yah kalah kelas”, imbuh Pak Hendra. “Lebih praktis, jangan teoretis. Usahakan pengajaran khas Katolik mendapat perhatian, seperti devosi kepada Maria, doa bagi orang mati, dan sebagainya”, kata Pak Salim. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Pak Irawan. Weleeeh…. kuping panas juga nih. Hampir aja penyakit lama kumat, yakni coba-coba membela diri. Cooling down!

Kritikan dan masukan yang tajam tapi tulus ini telah memaksa diriku untuk memandang pelayanan ini dengan kaca mata yang berbeda. Pertimbangan kritis dan rasional juga menyertai. Saya melihat, frame berpikir para simpatisan pelayanan ini perlu dibentuk agar sejalan dengan penghayatan Gereja Katolik. Banyak umat kita mencintai Kitab Suci tetapi memakai konsep yang sama dengan umat agama lain atau gereja lain. Frame berpikir ini perlu dibentuk lewat pengajaran tentang sejarah Kitab Suci seperti penulisan, proses kanonisasi, perbedaan dengan gereja-gereja lain dan perbedaan konsep dengan agama-agama lain. Dari frame berpikir yang dibaharui ini, umat lalu diajak untuk mendalami tema-tema khas Katolik yang sering ditantang oleh umat gereja dan agama lain.

Suatu malam sesudah mendalami tema tentang devosi kepada Maria dengan perhatian khusus pada doa rosario, sejumlah umat memberikan apresiasi khusus. Rasa syukur mengalir dari mulutku. Pada satu sisi, sangatlah penting berpedoman selalu pada pengajaran resmi Gereja Katolik. Pada sisi lain, kontekstualisasi pengajaran agar menjawabi situasi konkrit umat sangat penting dilakukan. Ibaratnya, langit harus selalu dijunjung, tapi bumi yang diinjak. Jika hanya ada di awan-awan, sangatlah mengambang tanpa pijakan, nanti jatuhnya sakit sekali. Amit-amit!


Menitip harapan di cahaya fajar

Kalau hari lagi cerah, saya paling suka naik ke pelataran atap rumah untuk memandang matahari terbit. Bagi saya, pemandangan yang paling spektakuler ialah ketika matahari belum nampak tetapi bias-bias cahaya fajar sudah menerobosi ufuk Timur. Namun keindahan cahaya fajar itu saja tidak cukup, karena yang diperlukan makluk hayati ialah sinar matahari yang menggerakkan roda kehidupan. Kendatipun demikian, jika cahaya fajar itu sudah nampak, orang tahu persis akan ada matahari yang menampakkan diri. Semoga tak ada awan tebal yang menghalangi kecerahan itu mencapai kehidupan yang bergerak dalam dunianya sendiri.

Setahun pelayanan ini ibarat mengusahakan situasi agar cahaya fajar itu dapat dilihat dan disadari kehadirannya oleh banyak orang. Cahaya fajar belumlah matahari tetapi memberi harapan akan munculnya matahari yang memberi kehidupan. Di akhir hari, tujuan pelayanan itu agar umat lebih mengenal dan mencintai Yesus Kristus yang SabdaNya tertera di dalam Kitab Suci.

Mari berjalan bersama-sama. Saya membutuhkan dukungan anda semua. Doakanlah saya agar terus tabah dan kreatif menjalankan tugas perutusan ini. Doakan juga gerakan ini agar diperkuat oleh tenaga-tenaga baru di masa depan agar semakin kaya dan menjangkau banyak orang.

Bagi para dermawan yang mau mendukung karya ini secara finansial, sumbangan anda sangat kami hargai. Alamatkan sumbangan anda ke BCA a/c 8210213636 a.n. Aurelius Pati Soge.

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut: svd.biblecenter@gmail.com atau HP: 082173212010.

 
 
 
 

ARTIKEL TERKAIT:

KURSUS DASAR  |  REFLEKSI HARIAN
 


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge