Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
 OPINI
"Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya "
(Arnoldus Janssen)

"Tugas kita yang paling utama ialah mewartakan Sabda. ... Pewartaan kita haruslah demikian rupa, sehingga ia memancarkan keagungan Kabar Gembira, dan dengan demikian orang dapat mengakui amanat Allah dalam kata-kata kita" (Konstitusi SVD 107)


Hari Studi Imam Keuskupan Pangkalpinang:
Imamat Sebagai Instrumen Kerahiman Ilahi

   
 
by Aurelius Pati Soge*)
halaman 1 dari 4
 

 

Prolog

Sejak dicanangkan sebagai perayaan sedunia melalui bulla Misericordiae Vultus, Kerahiman Ilahi telah menjadi sebuah tema yang banyak didalami, dan berpengaruh tidak hanya di lingkungan Gereja tetapi juga di masyarakat luas. Dengan tema “Bermurah hati seperti Bapa”, Paus Fransiskus mengajak seluruh gereja untuk berziarah, di mana nilai kerahiman itu tidak hanya menjadi kualitas pribadi yang dituntut tetapi juga menjadi tujuan yang hendak dicapai (MV 13-14). Umat Allah belajar bermurah hati seperti Bapa sekaligus mewujudkan sikap murah hati tersebut bagi gereja dan masyarakat. Paus Fransiskus sendiri sudah memberi contoh dengan perjalanan-perjalanan pastoralnya dan tindakan-tindakan liturgis yang tidak konvensional, seperti membasuh kaki para pengungsi dari berbagai suku dan agama pada hari Kamis Putih yang lalu. Tindakan ini mengirimkan pesan yang sangat unik kepada dunia, bahwa jika orang mau berusaha sungguh-sungguh, melupakan sejenak orientasi egosentris dan mau melayani orang lain dengan tulus, dunia akan menjadi kurang biadab. Saya mengibaratkan seruan ini seperti “melemparkan api ke dalam dunia dengan harapan agar api itu tetap menyala dan memberi semangat kepada banyak orang” (bdk. Lk 12:49).

Dalam mewujudkan pesan kerahiman ini, Sri Paus juga menekankan pentingnya peranan para imam, teristimewa peranan sebagai bapa pengkauan bagi umat beriman. “Janganlah lupa, bahwa menjadi bapa pengakuan berarti berpartisipasi dalam setiap misi Yesus, menjadi tanda nyata bagi cinta ilahi yang tak putus, yang membawa pengampunan dan cinta. Para imam menerima karunia dari Roh Kudus untuk pengampunan dosa, maka kita bertanggung jawab untuk itu”, kata Paus Fransiskus (MV 17. a.4). Untuk maksud itulah sejumlah imam dari keuskupan-keuskupan sedunia dipilih menjadi misionaris kerahiman, dengan hak khusus untuk memberi absolusi bagi dosa-dosa berat, termasuk yang selama ini hanya menjadi hak Tahta Suci (MV 18).

Menyadari peranan penting para imam dalam perwujudan kerahiman Ilahi ini, kita semua, baik sebagai pribadi maupun dalam kesatuan kolegial, hendaknya terus mendalami hakekat peranan kita sebagai alat Tuhan bagi pewartaan kerahiman-Nya kepada bangsa manusia, melalui tugas imamat jabatan yang kita terima dari Kristus sendiri melalui tahbisan suci.

 

1. Wujud kerahiman: dari verbum ke persona

Legasi pelayanan imamat kita terletak di dalam rencana keselamatan Allah yang disiapkan, segera sesudah manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Walaupun manusia pertama, yang diciptakan menurut citra Tuhan, mengingkari hakekatnya dan menolak tawaran cinta Tuhan, Tuhan tidak menghancurkannya dan menggantikannya dengan manusia baru. Sebaliknya Tuhan tetap menjamin eksistensi ciptaan-Nya itu dan merencanakan pemulihan martabatnya yang telah jatuh ke dalam dosa. Rencana keselamatan ini diwujudkan Tuhan melalui orang-orang pilihan, seperti para bapa bangsa, hakim-hakim, raja-raja, nabi-nabi, sesuai dengan situasi umat Allah dalam konteks sosial politik saat itu. Puncak dari seluruh pewahyuan diri Allah ialah peristiwa inkarnasi, di mana ekpresi diri Allah tidak lagi dalam “Verbum” tetapi dalam wujud “Caro”, atau lebih tepat persona, yang hidup, berkarya dan wafat sebagai manusia, dan dimuliakan dalam kebangkitan. Dengan demikian, Allah mengungkapkan linea kerahiman yang disiapkan bagi manusia berdosa. Persona ilahi itu telah hidup sebagai manusia, melayani manusia dan wafat sebagai manusia, namun kebangkitan telah membuka harapan baru bagi seluruh umat manusia. Konsekuensi dosa ialah maut atau kehancuran jiwa, namun kebangkitan telah membuka jalan menuju kehidupan. Jadi, walaupun dosa itu tetap mengancam, ketika manusia mau menuruti jalan yang ditetapkan Kristus, ia akan berakhir pada kemuliaan, walaupun untuk itu ia harus melewati salib dan kematian. ... SELANJUTNYA

 
   
 

*) Dibawakan pada Hari Studi para imam se-Keuskupan Pangkalpinang, di Pangkalpinang, 20 April 2016

PAGE 1, 2, 3, 4
 
 
 
 

LIHAT ARTIKEL LAIN

 


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge