Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
 OPINI
"Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya "
(Arnoldus Janssen)

"Tugas kita yang paling utama ialah mewartakan Sabda. ... Pewartaan kita haruslah demikian rupa, sehingga ia memancarkan keagungan Kabar Gembira, dan dengan demikian orang dapat mengakui amanat Allah dalam kata-kata kita" (Konstitusi SVD 107)


Hari Studi Imam Keuskupan Pangkalpinang:
Imamat Sebagai Instrumen Kerahiman Ilahi

   
 
by Aurelius Pati Soge*)
halaman 3 dari 4
 

2.3. Para murid mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus
Sebagai imam agung yang sempurna satu-satunya, peranan Yesus jelas tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Peranan khusus Yesus ini mengingatkan kita akan hakekat diri Yesus sebagai penyempurna seluruh pewahyuan diri Allah. Di dalam diri Yesus, kerahiman Allah juga mencapai kesempurnaannya. Namun pasca pelayanan di dunia, tugas pewartaan tentang Allah yang bermurah hati tidaklah berhenti. Penginjilan bangsa-bangsa tetap berjalan, sesuai dengan pesan Yesus, “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridku” (Mat 28:19). Tugas perutusan ini mewajibkan para murid untuk mewartakan pelayanan imamat Yesus yang membawa keselamatan bagi semua orang, yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya. Maka Yesus telah mempersiapkan lewat institusi imamat pada Perjamuan Terakhir, sehingga para murid memiliki hak untuk mempersembahkan sakramen-sakramen keselamatan umat Allah. Linea imamat inilah yang menghantar kita ke dalam kolegialitas para imam, yang menyatu dengan uskup dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Peranan suku Lewi ini pada prinsipnya berlaku dalam kultus-kultus klasik keagamaan dalam kerajaan-kerajaan, negara-negara atau komunitas-komunitas teokratis, di mana pemimpin adalah representasi wujud ilahi, dan keluarga tertentu mendapat peranan sebagai pemimpin pemujaan, dengan peranan, hak-hak dan kewajiban tertentu.

 

3. Imamat: instrumen kerahiman Ilahi

Dalam kaitan dengan tema “Kerahiman Ilahi”, para imam Gereja tak dapat memisahkan diri dari kewajiban pokok apostolik, yakni mewujudkan cinta sejati Tuhan bagi manusia. Berbicara tentang cinta seajti itu, rujukan yang dipakai ialah pelayanan Tuhan bagi kemanusiaan, sebagaimana dinyatakan dalam deskripsi tentang tujuan inkarnasi. Dalam dialog dengan Nikodemus, Yesus mengungkapkan tujuan tersebut, yakni “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Pernyataan Yesus ini dapat dilihat sebagai abstraksi dari seluruh revelasi diri Allah Tritunggal. Dari sini dapat ditarik tiga dimensi cinta Trinitas yang melandasi pelayanan Tuhan terhadap manusia, yakni (a) Cinta setia dari Bapa kepada manusia yang berdosa; (b) Cinta dharmabhakti diri Putera kepada manusia berdosa; dan (c) Cinta inspiratip Roh Kudus yang memungkinkan manusia berdosa turut serta di dalam karya keselamatan.

Sebagai murid Yesus Kristus yang mengambil bagian di dalam karunia imamat jabatan, para imam memperoleh peluang khusus mewujudkan tiga dimensi Trinitaris cinta Ilahi tersebut melalui pelayanan imamat. Dengan kata lain, pelayanan imamat harus menjadi (a) tempat umat Allah mengalami kesetiaan Bapa yang tak pernah luntur kepada orang berdosa; (b) tempat umat Allah mengalami dharmabhakti diri Putera yang menyerahkan segala sesuatu demi keselamatan orang berdosa; dan (c) tempat umat Allah menimba inspirasi sehingga sebagai orang berdosa mereka pun tergerak untuk turut serta di dalam karya pengembangan Kerajaan Allah.

 

4. Menghayati imamat sebagai instrumen Kerahiman Ilahi

Persepsi imamat, baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru, hanya akan menjadi warisan kekayaan rohaniah yang mengagumkan tetapi mandul jika para imam tidak sanggu mewujudkannya secara konkrit. Dalam dialog dengan Fred Bratman, seorang jurnalis atheis dari New York Times, spiritualis terkenal, Henry J. M. Nouwen, ditantang untuk berbicara kepada masyrarakat sekuler dengan keyakinan yang tinggi tentang nilai-nilai iman yang dihayatinya. “You have something to say, but you keep saying it to people who least need to hear it. What about us, ambitious, secular men and women wondering what life is all about, after all. Can you speak to us with the same conviction as you speak to those who share your tradition, your language and your vision”, kata Bratman (Nouwen, Henry J.M. Life of the Beloved: spiritual living in a secular world. New York: Crossroad Publications, 1995. P. 17). Dialog tersebut kemudian melahirkan refleksi tentang Life of the Beloved, di mana setiap orang beriman didorong untuk menyadari diri sebagai pribadi kesayangan Tuhan, ketika hakekat menjadi orang yang diberkati itu adalah dipanggil (taken), diberkati (blessed), ditempa (broken) dan diutus (given). Dalam konteks perayaan Tahun Kerahiman Ilahi, saya hendak memakai frame ini untuk merefleksikan implementasi imamat sebagai instrumen Kerahiman Ilahi.

4.1. Setiap imam perlu menyadari diri sebagai pribadi kesayangan Tuhan
Mengikuti linea imamat menurut aturan Melkisedek, imamat yang dikaruniakan kepada para imam merupakan rahmat Tuhan yang tercurah secara personal kepada masing-masing pribadi imam. Setiap imam didorong untuk membandingkan pengalaman spiritualnya dengan pengalaman para murid Kristus, sehingga setiap orang dapat membuat deskripsi sendiri, pada tingkatan mana kualitas rohaniahnya menanggapi karunia Tuhan tersebut.

       4.1.1. Imamat merupakan panggilan khusus.
Ketika Yesus memilih para rasul, ia memilih mereka dari berbagai latar belakang yang berbeda, bahkan berlawanan di dalam hidup biasa. Ada Petrus yang tempera-mental; ada Yakobus dan Yohanes yang selalu ingin diutamakan; ada Tomas yang kurang percaya; ada Yudas Iskariot yang mengkianati kepercayaan Yesus kepada dirinya; ada Matius, pemungut cukai yang menjadi kolaborator penjajah Romawi, yang pasti akan dihabisi oleh Simon orang Zelot, anggota partai politik yang ingin merebut kemerdekaan Israel lewat perjuangan bersenjata. Semua rasul yang berbeda latar belakang ini dapat berhimpun menjadi satu di seputar Yesus, karena mereka menyadari makna panggilan khusus. Yesus seorang guru kharismatis, penuh kuasa dalam mengajar dan melakukan mujizat, panggilan-Nya pun bernilai khusus yang membuat masing-masing murid menjadi orang khusus. Selain Yudas Iskariot yang mengingkari kekhususan dirinya tersebut, pertemuan dengan Yesus telah mengubah sama sekali diri para murid, sehingga mereka pun dapat dengan setia menjalankan kewajiban apostolik masing-masing sampai akhir hayat.

       4.1.2. Imamat merupakan berkat khusus.
Ketika Yesus mengadakan Ekaristi pada Perjamuan Akhir, Ia juga memberi karunia imamat kepada para rasul, sehingga dengan karunia itu mereka memiliki jabatan untuk merayakan Ekaristi bagi umat Allah. Mendobrak tradisi imamat Perjanjian Lama yang menekankan pertalian darah, Yesus tidak menyerahkan karunia itu kepada saudara-saudara-Nya. Ia menyerahkannya kepada kedua belas rasul. Berkat khusus tersebut tidak pernah ditarik lagi, karena sesudah itu Yesus mengakhiri pelayanan-Nya sebagai manusia. Dengan karunia tersebut, para rasul memelihara jemaat (Yoh 21:15-19); mengampuni dosa (Yoh 20:23) dan aneka tugas pelayanan lain yang melekat pada jabatan tersebut. .... SELANJUTNYA

 
 
   
 

*) Dibawakan pada Hari Studi para imam se-Keuskupan Pangkalpinang, di Pangkalpinang, 20 April 2016

PAGE 1, 2, 3, 4
 
 
 
 

LIHAT ARTIKEL LAIN

 


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge