Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Februari 2017
  MASA BIASA PEKAN 6
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
      1 2 3
26 27 28        
  Rabu, 15 Februari 2017
   
 

JIKA YA, KATAKAN YA; JIKA TIDAK,
KATAKAN TIDAK; APA YANG LEBIH DARIPADA
ITU DATANG DARI SI JAHAT

 
 
 
Kej 8:6-13.20-22 | Mzm 116:12-15.18-19 | Mrk 8:22-26

Nuh melihat-lihat; ternyata muka bumi sudah mulai kering (Kej 8:6-13.20-22)

Pada waktu itu air bah sudah mulai surut. Sesudah lewat empat puluh hari, Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak. Dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air menjadi kering di atas bumi. Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat mendapat tumpuan kaki dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera, karena di seluruh bumi masih ada air. Lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu. Menjelang waktu senja, pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu; tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. Maka dalam tahun ke enam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudah keringlah air dari atas bumi.
Kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat, ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan. Dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram, diambilnyalah bebarapa ekor, lalu ia mempersembahkan kurban bakaran di atas mezbah itu. Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, bersabdalah Tuhan dalam hati-Nya, “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya; Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

 

REFLEKSI hari ini hendak saya awali dengan kutipan dari Surat Partama Paulus kepada umat di Korintus. "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu" (1 Kor 13:11). Kutipan ini sangat relevan dengan tema refleksi yang membahasakan perkembangan iman. Katekese untuk anak-anak secara sederhana agar mereka bisa mengerti. Sejalan dengan pertambahan usia, materi dan metode pun berubah, untuk bisa menjawabi kebutuhan masing-masing tingkatan usia, pendidikan, latar belakang profesi, ekonomi dan kedudukan sosial. Trampil dalam menemukan metode yang sesuai bisa menjadi jalan menuju keberhasilan karya pastoral.

KUALITAS iman umat manusia itu bertumbuh tahap demi tahap, sehingga karunia Tuhan juga diberikan tahap demi tahap. Kisah Nuh dengan bahteranya dan orang buta yang disembuhkan Yesus dapat kita dalami menurut sudut pandang ini, bahwa karunia yang diberikan Tuhan dianugerahkan sesuai dengan tingkat kemampuan manusia untuk menyerap dan mengamalkannya. Deskripsi akhir bencana air bah sesungguhnya menampilkan kisah alamiah. Air masih menggenangi bumi, tanah masih berlumpur, namun burung merpati dengan daun zaitun segar membawa pesan perdamaian antara Tuhan dan manusia. Hukuman sudah selesai, kemarahan sudah reda, sekarang saatnya membangun jembatan rekonsiliasi yang berlanjut. Mujizat Yesus adalah wujud konkrit rekonsiliasi berlanjut itu, bahwa Tuhan terus menurunkan berkat walaupun manusia terus berdosa, sehingga manusia dapat kembali hidup dengan harga diri yang utuh. Yang penting manusia tidak berhenti mempersiapkan diri lewat pertobatan.

PENGALAMAN hidup sehari-hari sering kali tak menyadarkan kita akan karunia rekonsiliasi Tuhan, karena semua itu begitu sering terjaci secara alamiah. Kita baru tersentak ketika ada kejadian luas biasa, seperti bencana alam, perselisihan dengan teman, jatuhnya kekuasaan, hilangnya posisi di kantor, dan sebagainya. Di situ baru kita berlari kepada Tuhan. Pola iman seperti ini perlu kita ubah. Ingatlah Tuhan pada hari baru, pada setiap tarikan nafas, pada setiap rejeki, pada setiap penghargaan sesama, dan seterusnya. Jika semua itu disadari, bukan tak mungkin kesulitan akan dihadapi dengan tenang, karena kita tahu, ada lebih banyak karunia Tuhan yang membawa sukacita daripada kesulitan yang menghambat perwujudan diri masing-masing. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah kami agar selalu tabah di dalam perjalanan ziarah hidup menuju KerajaanMu yang abadi. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 116:12-15.18-19; R: 17a)

Ref: Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, ya Tuhan.
  1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepada-Ku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
  2. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya. Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
  3. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya, di pelataran rumah Tuhan, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem.
 

Si buta itu sembuh dan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas (Mrk 8:22-26)

Pada suatu hari Yesus dan murid-muridNya tiba di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon supaya Ia menjamah dia. Yesus lalu memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata si buta dan meletakkan tangan di atasnya, Ia bertanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang! Kulihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan.” Yesus kemudian meletakkan tanganNya lagi pada mata orang itu. Maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke kampung!”
 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge