Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Januari 2018
  Masa Biasa Pekan 1
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
  1 2 3 4 5
28 29 30 31      

Kamis, 11 Januari 2018
 
  St. Alexander, paus dan martir  
 
UJUD GEREJA INDONESIA:
"Semoga Gereja menaruh perhatian serius dan mengambil
langkah nyata untuk mengatasi masalah di mana banyak anak
muda Katolik ragu, goyah dan akhirnya meninggalkan iman."
 
 
 
1 Sam 4:1-11 | Mzm 44:10-11.14-15.24-25 | Mrk 1:40-45

Orang-orang Israel terpukul kalah dan tabut Allah dirampas (1 Sam 4:1-11)

Sekali peristiwa, orang Israel maju berperang melawan orang Filistin. Orang Israel berkemah dekat Eben Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel, “Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil Tabut Perjanjian Tuhan dari Silo, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo. Mereka mengangkat dari sana Tabut Perjanjian Tuhan semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub. Kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat Tabut Perjanjian Allah itu. Segera sesudah Tabut Perjanjian Tuhan sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.
Mendengar bunyi sorak itu orang Filistin berkata, “Apakah arti sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika mereka tahu bahwa tabut Tuhan telah sampai di perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin. Kata mereka, “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu. Celakalah kita, sebab hal seperti itu belum pernah terjadi. Celakalah kita! Siapakah yang akan menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Allah ini jugalah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai tulah di padang gurun. Akan tetapi, hai orang Filistin, kuatkanlah hatimu, dan berlakulah seperti laki-laki, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri, masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu. Dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan infantri. Lagi pula Tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

PENDERITA AIDS lebih banyak berhadapan dengan persepsi negatip masyarakat daripada penyakit itu sendiri. Praktisi medis pada umumnya sependapat, bahwa problema medis itu hanya sekitar sepuluh persen, sedangkan sembilan puluh persen adalah stigma masyarakat. Mereka dicap sebagai manusia amoral dan berbahaya, harus diisolasi atau dijauhi. Hukuman sosial ini juga berpengaruh bagi kaum keluarganya. Karena itu, mengatasi problem AIDS tidak hanya soal mengobati penyakit dan mendidik perilaku si sakit, tetapi juga mendidik masyarakat agar memiliki persepsi yang berimbang terhadap penderita AIDS.

PADA JAMAN Yesus, penderita kusta mendapat stigma tidak enak dan sering memperoleh perlakuan diskriminatip. Kitab Taurat sendiri panjang lebar berbicara tentang penyakit tersebut (bdk. Im 13-14). Karena pandangan masyarakat tersebut, barangkali penderita kusta yang datang kepada Yesus telah menghimpun keberanian yang luar biasa. Ia bisa saja diusir oleh banyak orang yang datang mencari Yesus karena dianggap menajiskan. Sikap Yesus yang menerima dan menyembuhkannya memberikan pesan, bahwa Tuhan berkuasa atas penyakit dan manusia dibebaskan dari stigma sosial yang melekat pada dirinya. Kesembuhan badan memulihkan juga peranan sosial, sehingga oleh Yesus si sakit mendapat pembebasan menyeluruh.

PELAYANAN SOSIAL yang kita lakukan menjadi satu wujud karya Tuhan yang menyentuh hidup orang-orang yang termarjinalisasi di dalam masyarakat. Ada mantan narapidana, mantan pekerja seks komersial, mantan pecandu narkoba, dan berbagai kelompok lain yang sering dicap sebagai sampah masyarakat. Komunitas sosial mungkin menolak mereka, tetapi tidak demikian sikap Gereja. Kita berkewajiban merangkul mereka dan memberi mereka kesempatan kedua menjadi warga masyarakat yang bermartabat. Melalui kita, Tuhan membebaskan mereka. (ap)

Doronglah kami untuk berani berjuang demi sesama, ya Tuhan, agar kaum terpinggirkan ini beroleh tempat yang layak di dalam masyarakat. Amin!

© 2018 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 44:10-11.14-15.24-25; R: 27b)

Ref: Bebaskanlah kami, ya Tuhan, demi kasih setia-Mu.

  1. Ya Allah, Engkau kini membuang kami dan membiarkan kami kena umpat; Engkau tidak lagi maju bersama dengan bala tentara kami. Engkau membuat kami mundur dipukul lawan, dan dirampok oleh orang-orang yang membenci kami.
  2. Engkau membuat kami menjadi celaan tetangga, menjadi olok-olok dan cemoohan bagi orang-orang sekitar. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, suku-suku bangsa merasa geli melihat kami.
  3. Bangunlah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangkitlah! Jangan membuang kami terus menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu? Mengapa tak Kauhiraukan penindasan dan himpitan yang menimpa kami?
 

Orang kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir (Mrk 1:40-45)

Sekali peristiwa, seorang sakit kusta datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus ia mohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras, kata-Nya, “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge