Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Januari 2018
  Masa Biasa Pekan 2
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
  1 2 3 4 5
28 29 30 31      

Sabtu, 20 Januari 2018
 
  St. Fabianus, paus, dan St. Sebastianus, martir  
 
UJUD GEREJA INDONESIA:
"Semoga Gereja menaruh perhatian serius dan mengambil
langkah nyata untuk mengatasi masalah di mana banyak anak
muda Katolik ragu, goyah dan akhirnya meninggalkan iman."
 
 
 
2 Sam 1:1-4.11-12.19.23-27 | Mzm 80:2-3.5-7 | Mrk 3:20-21

Para pahlawan gugur di medan perang (2 Sam 1:1-4.1-12.19.23-27)

Ketika kembali sesudah memukul kalah orang-orang Amalek, Daud tinggal dua hari di Ziklag. Maka datanglah pada hari ketiga seorang tentara dari pihak Saul dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah. Bertanyalah Daud kepadanya, “Dari manakah engkau?” Jawabnya, “Aku lolos dari tentara Israel.” Bertanyalah pula Daud kepadanya, “Apakah yang terjadi? Coba ceritakan kepadaku.” Jawabnya, “Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran. Bukan saja banyak rakyat yang gugur dan mati, malah Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.”
Maka Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya, dan semua orang yang menyertai dia berbuat demikian juga. Mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat Tuhan dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. “Kebanggaanmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Sudah gugurlah para pahlawan! Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat daripada singa. Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu. Sungguh, sudah gugurlah para pahlawan di tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu! Sedih hatiku karena engkau, saudaraku Yonatan! Engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan. Betapa gugur para pahlawan dan musnahlah senjata-senjata perang!”

 
PEKAN DOA untuk kesatuan umat Kristiani tidak akan membawa hasil yang nyata, kalau kita tidak belajar dari sejarah. Ada doa, ada juga usaha nyata. Ketika gelombang perpecahan melanda komunitas Kristiani, baik skisma Timur Barat tahun 1054, maupun reformasi yang melahirkan Protestantisme di tahun 1517, salah satu gerakan yang masif dilakukan ialah menghapus legasi Gereja lama, dalam hal ini Gereja Katolik. Banyak tradisi dan praktek yang dihapus karena tidak sesuai dengan semangat reformasi. Di sini bisa dipahami. Tetapi juga ada gerakan membelokkan sejarah dan menghapus fakta warisan spiritual selama berabad-abad, seperti tidak mengakui tradisi sebagai sumber pengajaran, padahal Kitab Suci adalah buah dari tradisi, bukan sebaliknya.

SIKAP DAUD ketika mendengar berita kematian Saul dan Yonatan bukanlah sujur syukur karena telah selamat, tetapi ratap tangis kehilangan dari seorang prajurit yang menghormati rajanya yang dipilih dan diurapi Tuhan. Perilaku Daud diikuti oleh semua orang yang mengikutinya. Saya percaya, penghargaan Daud pada Saul dan Yonatan menuai simpati dari pengikut Saul. Dengan demikian, Daud membentuk legasi kekuasaannya bukan di atas sakit hatinya orang lain melainkan di atas penghargaan atas sikap ksatria yang ditunjukkannya. Sikap ini tidak ditampilkan oleh kaum keluarga Yesus. Mereka merasa tidak nyaman sebab Yesus telah menjadi buah bibir banyak orang. Walaupun banyak hal yang baik, tapi pasti ada ceritera yang tidak baik. Mementingkan egoisme mereka sendiri, mereka menilai Yesus tidak lagi waras dan merasa berhak memaksa Dia pulang. Dan mereka tak berhasil karena itu bukan kehendak dan rencana Tuhan.

KITA tidak selamanya harus sejalan dengan orang lain, tetapi kita perlu belajar menghargai posisi orang lain. Seorang Katolik tidak harus menjadi Protestan, tetapi ia mesti belajar pola pikir orang- orang Protestan, agar memahami mengapa mereka berbeda dari Gereja Katolik. Demikian juga aliran-aliran Evangelis yang lain. Kita tidak bisa membangun persatuan ekumenis, andaikata kita hanya memandang orang lain dari sudut pandang kita. Perlu passing-over pastoral, beralih dari mental eksklusif ke sikap inklusif, dari konfrontasi ke dialog. Jika jembatan dibangun, ada kemungkinan meraih hasil. (ap)

Semoga kami belajar dari pengalaman-Mu, ya Yesus, agar kami tetap tegar walaupun ditolak dan dihina karena pelayanan kami kepada-Mu. Amin.

© 2018 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 80:2-3.5-7; R: 4b)

Ref: Buatlah wajah-Mu bersinar, ya Tuhan, maka kami akan selamat.

  1. Hai gembala Israel, pasanglah telinga-Mu, dengarkan kami, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan! Engkau yang duduk di atas para kerub, tampillah bersinar di depan Efraim, Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah menyelamatkan kami.
  2. Tuhan, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa? Mereka Kauberi makan ratapan dan Kauberi minum air mata berlimpah; Engkau menjadikan kami pangkal sengketa para tetangga, dan para musuh mengolok-ngolok kami.
 

Orang-orang mengatakan Yesus tidak waras lagi (Mrk 3:20-21)

Sekali peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka, “Ia tidak waras lagi.”

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge