Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Februari 2018
  Masa Biasa Pekan 5
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
        1 2
25 26 27 28      

Minggu, 4 Februari 2018
 
  St. Yohanes de Britto, martir  
 
UJUD GEREJA INDONESIA:
"Semoga dokter-dokter Katolik tidak menurunkan kualitas pelayanan medisnya dan secara profesional tetap menolong pasien-pasiennya yang menggunakan program jaminan kesehatan nasional."
 
 
 
Ayb 7:1-4.6-7 | Mzm 147:1-6 | 1 Kor 9:16-19.22-23 | Mrk 1:29-39

Aku dicekam oleh kegelisahan sampai dini hari (Ayb 7:1-4.6-7)

Ayub berkata kepada sahabatnya, “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti seorang budak yang merindukan naungan, demikianlah aku diberi bulan-bulan yang sia-sia, dan kepadaku ditentukan malam-malam yang penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka yang kupikirkan bilakah aku akan bangun. Tetapi malam merentang panjang dan aku dicekam oleh kegelisahan sampai dini hari. Hari-hariku berlalu lebih cepat daripada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas. Mataku tidak akan melihat yang baik.”

 
KUNJUNGANKU ke rumah pensiun para misionaris telah memberikan aku pengalaman yang tak terlupakan. Ada banyak ceritera masa lalu yang diulang, mengenang masa-masa aktip di tanah misi. Ada yang berceritera tentang keberhasilan, tentu tidak dilupakan tantangan, penderitaan dan kegagalan. Aku lalu bertanya, apa kira-kira pendapat mereka tentang rumah misi di mana mereka tinggal, yang menjadi panti jompo dikelola negara. "Walaupun pensiun, kami tetap bermisi", kata seorang misionaris. "Misi kami ialah berdoa bagi semua orang yang masih aktip di misi garis depan." Ia lalu menunjukkan daftar intensi doa untuk misionaris di seluruh dunia. "Misi tidak lagi mengenal batas daerah, tetapi tanggapan kita pada kehendak Tuhan", katanya lebih lanjut. Aku pun melihat dimensi lain dari misi itu.

SANTO PAULUS menggarisbawahi pewartaan Injil sebagai bagian esensial dari panggilan hidupnya, sehingga tidak mewartakan Injil merupakan kesalahan besar baginya. "Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil", demikian ia menulis bagi jemaat di Korintus (1 Kor 9:16). Deskripsi pewartaan Injil menurut Paulus mencakupi semua aspek hidup, di mana Kristus menjadi titik pusat. Itulah yang terjadi di Kapernaum. Yesus mengajar orang-orang di rumah ibadat dan melengkapinya dengan penyembuhan orang-orang sakit dan pembebasan orang-orang yang kerasukan setan. Semua itu ada dalam satu paket untuk menunjukkan, bahwa pewartaan Injil harus menjiwai semua murid dan otomatis menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Seorang Kristiani tidak bisa memisahkan tugas itu dari kehidupan pribadi. Dalam penderitaan sekalipun, seorang murid sejati tetap bisa mewartakan Firman Tuhan, sebagaimana yang ditampilkan oleh Ayub.

INTEGRASI tugas pewartaan Injil dan hidup sehari-hari tidak harus membuahkan konflik kepentingan, ketika kita melihat yang satu menjiwai yang lain. Kita tak dapat mewartakan Injil tanpa sarana duniawi yang dihasilkan dari pekerjaan kita. Sebaliknya pewartaan Injil itu memberi kita animasi untuk berbuat yang benar sejalan dengan nilai-nilai Injil. Akhirnya, tanpa menggembar-gemborkan di depan umum, kita mewartakan Injil kapan dan di mana saja, karena pada hakekatnya kehadiran kita sudah merupakan bentuk kesaksian atas Kristus yang menyelamatkan. (ap)

Dari terang hingga gelapnya malam, ya Tuhan, bimbinglah kami agar selalu menyatukan hidup kami dengan tugas membangun Kerajaan-Mu. Amin!

© 2018 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 147:1-6; R: 3a)

Ref: Tuhan menyembuhkan orang yang patah hati.

  • Sungguh, bermazmurlah bagi Allah kita itu baik, bahkan indah dan layaklah memuji-muji Dia. Tuhan membangun Yerusalem. Ia menghimpun orang-orang Israel yang tercerai berai.
  • Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. Ia menentukan jumlah bintang-bintang, masing-masing dipanggil dengan menyebut namanya.
  • Besarlah Tuhan dan berlimpah kekuatanNya, kebijaksanaan-Nya tidak terhingga. Tuhan menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi orang-orang fasik direndahkannya ke tanah.
 

Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (1 Kor 9:16-19.22-23)

Saudara-saudara, memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku untuk memegahkan diri. Sebab hal itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil. Andaikan aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sebab sekalipun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku dapat memenangkan sebanyak mungkin orang. Bagi orang-orang lemah aku menjadi seperti orang lemah supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya supaya sedapat mungkin aku memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala-galanya itu aku lakukan demi Injil, agar aku mendapat bagian di dalamnya.

 

Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit (Mrk 1:29-39)

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapenaum, Yesus, dengan Yakobus dan Yohanes, pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.
 
Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan. Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia. Waktu menemukan Yesus, mereka berkata, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab Yesus, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana pun Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea, memberitakan Injil dalam rumah-rumah Ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge