Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Februari 2018
  Masa Prapaskah Pekan 2
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
        1 2
25 26 27 28      

Minggu, 25 Februari 2018
 
  St. Walburga, abbas  
 
UJUD GEREJA INDONESIA:
"Semoga dokter-dokter Katolik tidak menurunkan kualitas pelayanan medisnya dan secara profesional tetap menolong pasien-pasiennya yang menggunakan program jaminan kesehatan nasional."
 
 
 
Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18 | Mzm 116:5-6.10.12-14.15-19 | Rm 8:31-34 | Mrk 9:2-10

Kurban Bapa Abraham, leluhur kita (Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18)

Setelah Abraham mendapat anak, Ishak, maka Allah mencobai Abraham. Allah berfirman kepada Abraham, “Abraham!” Abraham menyahut, “Ya, Tuhan!” Sabda Tuhan, “Ambillah anak tunggal kesayanganmu, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Maka sampailah mereka di tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham. Abraham lalu mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah malaikat Tuhan dari langit, “Abraham, Abraham!” Sahut Abraham, “Ya, Tuhan.” Lalu Tuhan bersabda, “Jangan bunuh anak itu, dan jangan kauapa-apakan dia. Kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Diambilnya domba itu dan dipersembahkannya sebagai kurban bakaran pengganti anaknya. Untuk kedua kalinya berserulah malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham, katanya, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri – demikianlah firman Tuhan – karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Melalui keturunanmu lah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat, sebab engkau mentaati sabdaKu.”

 
SELAMA Masa Prapaskah ini, setiap hari Jumat diadakan ibadat jalan salib. Umat beriman diajak untuk merenungkan sengsara Yesus mulai dari pengadilan Pilatus hingga masuk ke liang kubur. Keempat belas stasi itu direnungkan satu per satu dan dikaitkan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Tema dasar adalah korban diri Tuhan demi pembebasan manusia dari dosa-dosa. Kegelapan harus disingkirkan, agar jalan manusia menuju keselamatan itu menjadi lapang. Walaupun demikian, manusia juga tetap dituntut untuk membuktikan korban diri, melengkapi korban utama yang sudah dipersembahkan Yesus. Selama Gereja masih hidup, rantai korban itu tidak terhenti, baik di dalam Perayaan Ekaristi maupun korban silih dosa oleh umat manusia.

PENGERTIAN umum tentang korban, yang dipraktekkan dalam banyak kepercayaan, membuat kita bertanya, apakah Tuhan harus dipuaskan dengan darah agar bisa memberi pengampunan? Abraham harus bertarung dengan kepedihan hati sendiri ketika diperintahkan oleh Tuhan untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Ishak, di Gunung Moria. Ternyata itu adalah ujian, maka korban sesungguhnya adalah kemampuan Abraham mengatasi keinginannya sendiri untuk mengikuti keinginan Tuhan. Keinginan Tuhan itu hanya satu, yakni manusia masuk kembali dalam alam keselamatan seperti sebelum ada dosa. Dan jalan menuju ke sana ialah korban diri Yesus, Tuhan dan Penyelamat. "Allah bahkan tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya demi kita semua", demikian kata St. Paulus (Rm 8:32). Yesus inilah yang diwahyukan kepada Petrus, Yohanes dan Yakobus di atas gunung. "Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia", sabda Tuhan (Mrk 9:7). Abraham berkorban, Yesus berkorban, Gereja berkorban. Warta keselamatan kepada dunia terus berlangsung hingga hari ini.

KORBAN DIRI merupakan tema yang relevan bagi refleksi umat beriman di Masa Prapaskah ini. Pedoman kita ialah, Tuhan sudah berkorban diri demi keselamatan semua orang. Tuhan juga tidak menuntut korban lebih daripada yang bisa kita berikan. Korban diri yang layak kita persembahkan ialah pertobatan dari dosa. Ketika tobat diwujudkan dengan baik, kita lebih terbuka mendengarkan firman Tuhan. "Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia", kata Tuhan. Mendengarkan Yesus berarti membuka diri bagi tugas pewartaan Injil yang memberi kesadaran kepada bangsa-bangsa, agar Kerajaan Allah ditegakkan di atas bumi, sehingga makin banyak orang menemukan keselamatan sejati di dalam diri Yesus, Sang Mesias. (ap)

Korban diri-Mu, ya Tuhan, adalah karunia terbesar yang kami terima. Buatlah kami selalu menghargainya dengan meneladani diri-Mu. Amin.

© 2018 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 116:5-6.10.12-19; R: 9)

Ref: Bawalah kurbanmu bagi Tuhan, sembahlah Dia dalam istana yang kudus.

  1. Berbelaskasihlah Tuhan dan adil; Allah kami adalah rahim. Orang bersahaja dijagaNya dan yang hina diselamatkan-Nya.
  2. Apa balas budiku kepada Tuhan atas anugerah-Nya? Piala keselamatan akan kuangkat dan nama Tuhan akan kuserukan.
  3. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar di hadapan seluruh umat-Nya. Kukurbankan padaMu kurban pujian dan namaMu akan kuserukan.
  4. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar di hadapan seluruh umat-Nya. Di dalam pelataran rumah Tuhan, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem.

Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri (Rm 8:31-34)

Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Allah bahkan tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya demi kita semua. Bagaimana mungkin Ia tidak menganugerahkan segalanya bersama Anak-Nya itu kepada kita? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah wafat? Bahkan lebih lagi, yang telah bangkit? Yang juga duduk di sebelah kanan Allah? Yang malah menjadi pembela bagi kita.

 

Inilah Anak-Ku terkasih! (Mrk 9:2-10)

Pada suatu hari Yesus berbicara tentang bagaimana Ia akan menderita sengsara. Sesudah itu Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan bersama mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup menggelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia dan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.
 
Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Rabbi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini! Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Petrus berkata demikian sebab ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” Dan sekonyong-konyong, waktu memandang sekeliling mereka tidak lagi melihat seorang pun bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan supaya mereka jangan menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksudkan dengan “bangkit dari antara orang mati.”

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge