Home | News | Opinion | Contact Us
+  FROM EVERY NATION, PEOPLE AND LANGUAGE: Sharing Intercultural Life and Mission  +
 

Pekan I Kapitel Jendral XVII:  


Chinese dance by Fr. Quing Ping


African play of living the interculturality

 
Komunikasi Lintas Zona dan Budaya
   
     
 

EKARISTI KUDUS, Kamis, 20 Juni 2012, di Kapela Utama Ad Gentes Center, Nemi. Para utusan dari Zona Asia Pasific (ASPAC) memenuhi area di sekitar altar dengan pakaian budaya masing-masing. Utusan dari Vietnam, India, Jepang berpakaian ala daerah asalnya. Dari Indonesia tampil agak beragama dalam bentuk busana Bali, Jawa dan Ruteng, Flores. Selebihnya berbaju batik. Ekaristi diawali dengan lagu berbahasa Inggris. Mazmur antar bacaan dalam bahasa Hindi. Bacaan Injil dinyanyikan dalam Bahasa Fiji. Lagu dan tarian persembahan dalam gaya Indonesia. Doxology dalam gaya India dan lagu post komunio dalam bahasa Tagalog. "Colourful Mass", demikian ungkapan yang paling tepat mengenai misa khusus tersebut.

Perayaan Ekaristi tersebut hanyalah sebuah ungkapan dari warna khas pekan pertama Kapitel Jendral SVD XVII yang penuh diisi dengan pertemuan-pertemuan lintas zona dan budaya. Setelah presentasi tentang draft "Congregational Direction" oleh Jendralat, tanggapan dibuat pada tingkatan empat zona, yakni Asia Pasifik, Eropa, Afrika Madagascar dan Pan-Amerika. Pasca pertemuan intra-zona, dibuatlah dialog lintas zona. Setiap zona mendapat kesempatan untuk bertemu dan berdialog dengan semua peserta dari zona yang lain secara bergiliran.

Sejumlah topik diangkat sebagai keprihatinan bersama antar zona. Di antara beragam tema yang muncul, ada sejumlah keprihatinan umum, yakni solidaritas antar zona di bidang personalia, finansial dan formasi (pendidikan misionaris). Wilayah Asia Pasifik memiliki kuantitas panggilan yang relatif tinggi tetapi kurang kuat dalam hal finansial. Wilayah Eropa dan Amerika Utara memiliki sumber dana yang memadai tetapi hampir tak ada lagi panggilan. Ada perbedaan budaya dan kebiasaan yang besar antara Asia Pasifik dengan Amerika Latin. Afrika dan Madagaskar menunjukkan peningkatan panggilan tapi kekurangan tenaga pendidik. Dalam bingkai internasionalitas dan interkulturalitas, zona-zona berusaha mencari bentuk kerja sama untuk mempertahankan keragaman yang menjadi ciri khas SVD sedunia.

   
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
 

Puncak dari proses pekan pertama ini ditandai dengan acara malam budaya (cultural evening) di halaman depan sentrum Ad Gentes Nemi. Keempat zona menampilkan beberapa atraksi budaya. Dari Asia Pasifik, tiga acara ditampilkan, yakni folk song dari kawasan Melanesia, tarian dari India dan Cina. Afrika Madagaskar menampilkan fragmen pendek aktualisasi interkulturalitas dalam konteks mereka. Kawasan Eropa menampilkan lagu daerah dalam bahasa Polandia dan tarian Irlandia, sementara zona Pan Amerika menampilkan musik Latino yang meriah. Acara dipandu oleh Konsultor Jendral, Arlindo Diaz, dan Koordinator Komunikasi Jendralat, Thomas Kallancira. Pakaian-pakaian khas dari sejumlah kawasan seperti kimono dari Jepang, busana penuh warna-warni dari Afrika, baju khas India, turut mewarnai keragaman malam budaya ini.

Di akhir acara malam budaya ini, Superior Jendral SVD, P. Tony Pernia, berkenan meniup lilin pada kue ulang tahun ke-50 Ad Gentes Center, Nemi yang telah menjadi saksi sejarah program on going formation dan sejumlah kapitel dalam serikat. Sore hari sebelum acara malam budaya ini telah diadakan misa syukur atas ulang tahun tersebut. Dalam perayaan tersebut, P. Pernia menjelaskan, bahwa sentrum spiritualitas ini diberi nama Ad Gentes Center untuk mengingatkan legasi sejarah gereja dalam kaitan dengan Konsili Vatikan II, di mana dokumen konstitusi dogmatis Ad Gentes ditulis di tempat ini, dengan Superior Jendral SVD saat itu, P. Gen Schute, memainkan peranan kunci. Sebagai tanda penghargaan atas peranan itu, dua paus berkenan mengunjungi tempat ini, yakni Paus Yohanes XXIII yang memulai Konsili Vatikan II dan Paus Paulus VI yang menggantikannya. Kedua paus tersebut memberi hadiah berupa dua piala yang dipergunakan dalam perayaan misa syukur tersebut.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
BERITA SEBELUMNYA  |  PANORAMA KAPITEL  |  BERITA BERIKUTNYA


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge