![]() |
|
Home | News | Opinion | Contact Us |
||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642 | SEARCH:
|
|||||||
| SVD Batam | SOVERDIA (Awam SVD) | Pelayanan Kitab Suci | Pelayananan Internasional | Liturgi dan Devosi | Tirta Wacana |
|---|
![]() |
OPINI | "Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya " (Arnoldus Janssen) |
![]() |
|---|---|---|---|
|
| |
EKUMENE: |
|||
|---|---|---|---|
oleh Aurelius Pati Soge*) |
halaman 3 dari 4 |
||
Berakar pada Spiritualitas Trinitaris Menjalani pelayanan tersebut selama bertahun-tahun, saya semakin yakin, bahwa pelayanan ini merupakan sebuah wujud iplementasi langsung spiritualitas Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini) yang berwarna Trinitaris, yang ditopang oleh matra-matra khas yang telah disebutkan di atas. Spiritualitas Trinitaris merujuk ke relasi hakiki Allah Tritunggal, yakni cinta. Oleh cinta, Bapa menciptakan alam semesta, oleh cinta Putera menjadi manusia dan membebaskannya dari kuasa dosa, dan oleh cinta pula Roh Kudus menyertai manusia (gereja) untuk meneruskan karya penyelamatan Kristus. Secara khusus, cinta tersebut tergambar di dalam tampilan khusus masing-masing pribadi Allah Tritunggal. Dalam diri Bapa kita mengalami sosok Allah yang menghargai dan tetap setia kepada manusia yang berdosa; dalam diri Putera kita menemukan sosok diri Allah yang rela mendharmabhaktikan diri bagi keselamatan orang berdosa; dalam diri Roh Kudus kita menemukan sosok diri Allah yang menyertai orang berdosa untuk meneruskan rencana keselamatan. Tawaran cinta Allah tersebut perlu ditanggapi oleh manusia berdosa dengan cara yang tepat agar di tengah masyarakat manusia ditegakkan keadilan sosial, dibangun relasi persaudaraan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang terbangun dari aneka dikotomi sosial yang sering sangat merusak tatanan hidup bersama sebagai makluk Tuhan yang bermartabat. Kesadaran akan perlunya harmoni sosial tersebut memberi dorongan untuk memelihara keutuhan ciptaan Ilahi yang disiapkan Tuhan untuk melayani manusia sebagai mahkota semua ciptaan |
|||||
|
Pada hemat saya, pelayanan lintas denominasi Kristiani merupakan sebuah medium yang baik untuk mewujudkan spiritualitas Trinitaris tersebut. Inti penekanan ada pada kasih yang menjembatani perbedaan. Relasi cinta Trinitaris yang menjadi sumber rencana keselamatan perlu dikomunikasikan secara nyata, antara lain dengan melintasi jembataan perbedaan-perbedaan yang telah melukai Gereja selaku Tubuh Mistik Kristus. Pertama-tama, tentu saja pelayanan ini perlu dilandasi oleh niat yang tulus untuk mewujudkan doa Kristus, agar umatnya bersatu padu (bdk. Yoh 17:21). Seperti Bapa setia dan menghargai manusia berdosa, pelayanan ini tidak akan membuahkan hal positip jika tidak dilandasi pada batin yang tulus untuk membangun komunikasi dengan saudara-saudara sesama umat yang percaya kepada Kristus. Kedua, seperti Kristus, pelayanan ini merupakan wujud persembahan diri yang konsisten diwujudkan, dan tidak sekedar petualangan sesewaktu. Dan ketiga, seperti Roh Kudus memberi inspirasi bagi umat manusia untuk turut serta di dalam karya pengembangan Kerajaan Allah, pelayanan ini ditujukan untuk mendorong banyak pihak untuk serius mengupayakan dan mewujudkan ekumene sebagai sebuah kebajikan Kristiani, yang bisa memberi harapan bagi dunia yang terpolarisasi oleh banyak batasan sosial, politik, etnisitas, fundamentalisme agama-agama, ideologi-ideologi sekular, dan sebagainya.
|
||||
Diwarnai Matra-Matra Khas Ketika semakin sering melayani permintaan-permintaan dari beberapa denominasi Kristiani, saya menyadari perlunya akar yang kuat untuk dapat konsisten dalam karya unik ini. Prinsip yang saya pergunakan sangat sederhana, yakni rootedness and openness, berakar pada tradisi dan kebiasaan sendiri dan terbuka kepada tradisi dan kebiasaan mitra dialog. Semangat keterbukaan itu terbentuk secara bertahap sejalan dengan intensitas komunikasi dengan mereka. Yang hendak saya soroti lebih dalam di sini adalah keberakaran (rootedness) pada semangat dasar yang saya miliki. Sebagai anggota SVD yang melayani Gereja Katolik, saya tidak dapat memisahkan diri seluruh pengajaran resmi Gereja Katolik dan frame misi yang ditekankan oleh SVD. Bagi saya, yang paling relevan saat ini, adalah spiritualitas misioner SVD yang ditopang oleh empat pilar matra khas, yakni (a) Biblical Word, (b) Communicating Word, (c) Animating Word, dan (d) Prophetic Word (dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Sabda Alkitabiah, Sabda Mengkomunikasi, Sabda Menganimasi dan Sabda Profetis). Matra-matra khas ini tidak merujuk kepada karya-karya khusus tetapi pada semangat dasar yang melekat pada diri setiap anggota SVD. Sabda tidak menyebut kata-kata tertulis di dalam Kitab Suci tetapi pada Pribadi Ilahi yang dengan berbagai cara mewahyukan diri kepada manusia, sehingga manusia memiliki kesempatan meraih keselamatan. Peresapan matra-matra khas SVD ini, jika dijalankan dengan sepenuh hati, mengubah karakter misioner seseorang, karena ia sepenuhnya menghayati relasinya yang unik dengan pribadi Tuhan yang setia dan menghargai manusia ciptaanNya, yang telah mengkianati diriNya lewat dosa; dengan pribadi Tuhan yang demi keselamatan manusia berdosa rela mengorbankan diri; dengan pribadi Ilahi yang terus menyertai manusia di dalam ziarahnya sehingga manusia, walaupun lemah dan penuh dosa, dapat turut serta di dalam pengembangan Kerajaan Allah; dan dengan pribadi Ilahi yang konsisten membela keadilan perdamaian dan mengupayakan keutuhan alam ciptaan tanda kehadiran, kebesaran dan kemuliaanNya. Sambil mengakui, bahwa keberakaran diriku pada pola spiritualitas ini masih belum sempurna dan perlu terus dikembangkan, penghayatan dasar inilah yang memberi kekuatan, arah dan tujuan di dalam pelayanan lintas denominasi tersebut. Saya sangat berharap, bahwa pelayanan kecil tersebut bisa mendorong sesama umat yang percaya kepada Kristus, walaupun berasal dari denominasi dengan pandangan teologis yang berbeda, belajar saling menghargai dan setia saling mendukung satu sama lain. Ketika ada kesadaran akan pentingnya nuansa ini, sangatlah dekat kita pada aspek hakiki dari umat Kristiani, yakni melayani setiap orang tanpa memandang aneka batasan yang sering menjadi tembok penghalang. Kita pun dapat menjadi inspirasi satu sama lain, menimba kekayaan tradisi dan kebiasaan denominasi lain untuk memperkaya tradisi dan kebiasaan kita sendiri. Ketika kita menyadari, bahwa kesatuan dalam keanekaan itu bisa terwujud, sesungguhnya kita sedang membangun sebuah kekuatan baru di dalam dunia, yang bisa lebih keras bersuara untuk memerangi ketidakadilan, pelecehan atas martabat manusia dan alam ciptaan, mengupayakan pedamaian, dan sebagainya............... SELANJUTNYA |
|||||
| *) Dipresentasi dalam simposium misiologi di Aditya Wacana: Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan, Malang, tanggal 22 Januari 2015 | |||||
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge |
|||