Home | News | Opinion | Contact Us
+  FROM EVERY NATION, PEOPLE AND LANGUAGE: Sharing Intercultural Life and Mission  +
 

Pekan IV Kapitel Jendral XVII:  


P. Budi Kleden (Konsultor Jendral) dan P. Gabriel S. Koten (Regional Timor Leste) di Forum Pompei dengan latar belakang gunung Vesuvius

Penulis di tribun amphiteater untuk pentas seni

Interior Basilika di Biara Benediktin Monte Casino  

 
Wisata ke Pompei dan Monte Casino    
     
 

Dalam agenda awal yang dipersiapkan oleh tim persiapan Kapitel, tidak tercantum acara wisata (ekskursi) ke tempat-tempat bersejarah di Italia. Karena itu pada hari Minggu, biasanya banyak orang pergi dari Nemi ke aneka tempat sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Namun sejumlah perkembangan mengubah agenda tersebut, seperti alokasi waktu untuk resolusi dan rekomendasi menjadi terlalu panjang karena Selecting Committee menggugurkan sejumlah rancangan yang secara prinsipiil sudah terakomodasi dalam dokumen Congregational Directives. Maka hari Kamis, 12 Juli 2012, dua kelompok dibentuk untuk dua ekskursi berbeda, yakni ke Asisi dan Pompei dengan kesempatan mampir di Monte Casino.

Memasuki reruntuhan kota tua Pompei (dekat Napoli), saya merasa seakan-akan melompat kembali masa hampir dua ribu tahun ke belakang, ke masa peradaban kuno yang runtuh akibat letusan gunung Vesivius yang mengubur seluruh kota dengan penghuninya. Timbunan abu vulkanik ternyata menjadi pengawet yang menjaga seluruh kota yang tertata dengan sangat baik, termasuk jasad-jasad penghuni yang membatu dalam bencana dahsyat tersebut. Ketika sejumlah penggali batu bangunan secara tidak sengaja menemukan kota tua yang terkubur ini, penggalian besar-besaran pun akhirnya membawa kembali peradaban tua ini ke dunia masa kini sebagai sebuah warisan peradaban yang pantas untuk dihargai.

Studi arkeologi mengungkapkan tingginya peradaban di kota ini seperti tata kota, teknologi bangunan, sistem saluran air minum dan pembuangan, manajemen ekonomi dan pendidikan, seni, sistem agrikultura, kedokteran hingga ke deviasi sosial seperti pelacuran, penyakit kelamin, perbudakan dan aneka praktek jaman itu yang di masa modern ini dianggap sebagai pelecehan terhadap martabat manusia. Selain itu, sisi iman dan agama pun mendapat tempat dalam situs-situs penghormatan terhadap dewa-dewa dan aneka altar pemujaan.

Melangkah di forum (alun-alun) kota yang dikitari oleh pilar-pilar berukir yang masih tegak berdiri, saya memandang puncak gunung Vesuvius yang samar-samar di kejauhan, begitu damai dan memancarkan keindahan tetapi juga menyimpan potensi bencana yang siap meluluhlantakkan peradaban manusia. Imajinasiku melangkah jauh ke belakang, ketika menjelang senja, warga kota yang kaya raya berjalan di forum itu sambil berdiskusi tentang filsafat, politik, seni, ekonomi, politik, teknologi dan sebagainya. Ketika ada pentas seni, warga yang berduit akan berduyun-duyun ke tribun opera atau ke amphiteater. Kembali ke rumah bagi mereka sudah tersedia roti yang lezat dengan lauk pauk serta anggur yang enak. Anak-anak mereka mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah. Seniman-seniman mendapat kesempatan untuk mengembangkan ketrampilannya di sekolah-sekolah seni teater dan seni rupa. Namun di balik semua ini, ada ribuan budak yang terus menerus bekerja tanpa mempunyai hak untuk merdeka, banyak negara dan kota lain yang ditaklukkan dan dijajah untuk menyediakan suplai bagi kemewahan para penduduk kota. Maka keyakinanku semakin kuat, di balk kebesaran sebuah pencapaian, tersembunyi komitmen dan pengorbanan banyak orang. Ini yang sering dilupakan oleh manusia.

Meninggalkan Pompei yang terbaring dalam kenang-kenangan peradaban kuno, saya yakin dan percaya, bahwa kendatipun manusia senantiasa merasa diri besar dan ingin menaklukkan alam semesta, ketika alam berbicara lain, yang ada pada manusia hanya lah kepasrahan dan tunduk pada hukumnya.

*****

Peradaban Pompei kuno ditinggalkan, rombongan beralih ke sebuah kemegahan yang mewakili sisi lain kehidupan manusia, yakni Monte Casino. Di puncak gunung ini berdiri megah Biara Benediktin yang didirikan oleh St. Benediktus, penulis regula kehidupan monastik Gereja Katolik Roma, yang menjadi rujukan dan dasar bagi kehidupan monastik Gereja Barat. Biara ini dibangun kembali di atas reruntuhan biara lama yang hancur oleh bom-bom di erah perang dunia kedua. Dengan data yang mendetail, pemerintah Italia membangun kembali biara itu tanpa menambahkan atau mengurangkan apapun. Balok-balok batu yang besar membuat tembok-tembok itu begitu kokoh. Pilar-pilar berdiri megah, dihiasi lukisan-lukisan fresko dan mosaik yang indah. Basilika yang merupakan puncak dan pusat dari seluruh biara mewariskan kekayaan masa lalu yang begitu besar. Alur-alur emas menghiasi langit-langit dan dinding. Lebih dari delapan puluh jenis marmar yang berbeda menjadi hiasan interior. Lukisan-lukisan dan ukiran-ukiran jelimet. Orgel klasik dengan pipa-pipa logam berwarna keperakan.

Kesan selintas, tempat ini begitu megah dan kaya, layak menjadi monumen peradaban rohani yang menjadi tonggak sejarah kehidupan spiritual Gereja. Namun ada ironi yang menusuk hatiku mendengar kata pemandu wisata, "Di dalam biara yang besar tinggal hanya dua puluh orang pertapa." Yah... sekularisme telah menggusur keagungan panggilan membiara.

   
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
 
   
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
   
Wikipedia:
 Pompei dan Monte Casino
   
   
BERITA SEBELUMNYA  |  PANORAMA KAPITEL  |  BERITA BERIKUTNYA


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge