Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
  Berita di antara kita  
 
 
"Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah."
(Mat 10:26-27)
   
   
   
   
 
  Distrik SVD Sumatera: Bahasa sebagai pintu masuk evangelisasi umat

Misionaris SVD Distrik Sumatera Utara
 
 

KOMUNITAS SVD Distrik Sumatera Utara mengadakan acara rutin rekoleksi per enam bulan, Senin-Kamis, 20-23 Januari 2014, di Paroki St. Fransiskus Asisi, Tuhemberua, Nias. Rekoleksi rutin tersebut dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan misioner antar anggota komunitas. Karena jarak yang luas, yang mencakupi Sumatera Utara, Aceh, Nias dan Batam, komunitas dalam bentuk konvensional tradisional dalam sebuah rumah tak mungkin. Kendatipun demikian, para misionaris menghayatinya dalam bentuk berbeda, yakni ikatan distrik yang membentuk komunitas area yang menghimpun para anggota dalam satu persekutuan.

Tema pertemuan kali ini adalah refleksi iman berdasarkan pengalaman misi lapangan. Beberapa misionaris dari pengalamannya membuat refleksi misiologis tentang interaksi antar iman dan budaya tersebut. Pater Levi Lidi yang sudah secara resmi mendapat marga Pakpahan menggali pilar-pilar budaya Batak dan menggambarkan peluang dan tantangan di dalam karya pastoral misioner.

   
     
     
     
     
     
     
     
     
 

Bahasa sebagai pintu masuk

Dalam refleksinya berdasarkan pengalamannya berkarya di wilayah "Tano Batak", P. Levi Lidi Pakpahan menyebut kefasihan berbahasa sebagai satu medium efektif untuk masuk ke dalam pola pikir dan tradisi masyarakat Batak. Ada banyak ungkapan, cara hidup dan kebiasaan bisa dipahami secara lebih baik berdasarkan nilai rasa bahasa. Ketika umat melihat bahwa misionaris bisa menguasai nilai rasa bahasa dan memahami jalan pikiran mereka, jembatan dialog kultural tercipta. Dengan itu membuka lebih banyak peluang untuk mewariskan nilai-nilai Kristiani ke dalam pola pikir masyarakat setempat. Salah satu legasi misioner SVD di wilayah ini adalah kemauan untuk belajar bahasa dan budaya Batak sebagai pintu menuju evangelisasi lanjut, satu legasi yang sangat dihargai oleh gereja lokal dan masyarakat adat. Pewarisan tradisi ini seharusnya tetap dijaga karena telah dirasakan manfaatnya. Karena itu, komunitas SVD Distrik Sumatera menganjurkan, baik kepada pimpinan Gereja Lokal maupun pimpinan SVD (Provinsi Jawa), agar kembali menekankan aspek penguasaan bahasa dan budaya Batak bagi setiap misionaris yang ditugaskan di wilayah misi tersebut. Pada sisi lain, setiap misionaris, yang sudah berkarya tetapi belum memahami bahasa dan budaya Batak, didorong untuk mengambil inisiatip studi mandiri di sela-sela kesibukan pastoral. Banyak misionaris yang keberatan dengan itu mengingatnya padat dan tingginya frekwensi pelayanan, tetapi seluruh komunitas juga sepakat, bahwa tak ada cara lain selain daripada kemauan keras dan kerendahan hati untuk belajar bahasa dan budaya. Selain bahasa dan budaya Batak, situasi yang sama juga berlaku bagi para misionaris yang berkarya di lingkungan bahasa dan budaya Nias.

Aspek profetis tidak dilupakan

Secara umum, belajar bahasa dan budaya merupakan satu perwujudan dari karakter misi SVD masa kini yang telah didefinisikan sebagai Dialog Profetis, terutama pada pilar dialog dengan kaum berbudaya lain. Namun satu aspek lain yang tak boleh diabaikan ialah nilai profetisnya, yakni menunjukkan yang benar dan melawan ketidakadilan. Kembali ke ranah budaya Batak, ciri patrilinial sangat melekat pada setiap elemen masyarakat dan berpengaruh besar pada gereja. Yang aktip dan terlibat lansung dalam pelayanan gereja biasanya kaum perempuan, tetapi ketika menyentuh aspek kepemimpinan, kaum perempuan selalu "kalah". Di sini peranan misionaris sebagai jembatan dialog sangat penting, agar mencari celah-celah budaya yang memungkinkan penyampaian nilai-nilai kesetaraan jender sebagai sebuah kebajikan Kristiani yang perlu dipahami dan diterapkan. Sambil mengakui, bahwa implementasi radikal soal jender ini bukan perkara mudah dan tak bisa terjadi dalam waktu singkat, kesadaran para misioanris harus dibina, agar pola pikir misionaris sendiri tidak sampai melebur ke dalam cara-cara yang mengabaikan kesetaraan tersebut.

Dalam kesempatan berharga tersebut, para misionaris juga saling mengoreksi diri dengan memperhatikan keluhan tentang "menurunnya" semangat pelayanan para misionaris. Walaupun di sana sini ada pendapat pro dan kontra, sentilan tersebut menjadi perhatian serius, karena menurunnya semangat pelayanan akan sangat berpengaruh pada eksistensi misioner SVD di wilayah Sumatera.(ap)

 
       


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge