![]() |
|
|||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642 | SEARCH:
|
|||||||
| SVD Batam | SOVERDIA (Awam SVD) | Pelayanan Kitab Suci | Pelayananan Internasional | Liturgi dan Devosi | Tirta Wacana |
|---|
![]() |
Berita di antara kita | ||||
|---|---|---|---|---|---|
"Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah." |
|||||
| HARI KEMERDEKAAN INDONESIA: Ketika semua bangsa bersatu dan berhimpun di seputar Yesus |
||||
|---|---|---|---|---|
HARI KEMERDEKAAN Indonesia, 17 Agustus 2014, dirayakan oleh komunitas Katolik internasional (International Pastoral Community) di Bible Centre, Sukajadi, Batam, dengan perayaan Ekaristi meriah sebagai sebuah hari raya. Gereja kecil di Sukajadi tersebut dihiasi meriah dengan kembang dan aneka macam asesoris lain, didominasi oleh warna merah dan putih. Lagu-lagu perayaan ditanggung oleh sekelompok umat Indonesia yang dimotori oleh anggota Soverdia Batam, ditunjang oleh tim komentator, pembaca dan pemazmur yang dibentuk khusus untuk tujuan ini. Kemerdekaan itu hak manusia sebagai ciptaan Tuhan Sambil mengenang jasa-jasa para pahlawan bangsa yang mempertaruhkan nyawa untuk memperjuangkan kemer- dekaan bangsa ini, Rm. Aurelius Pati Soge, SVD, dalam kotbahnya mengingatkan umat, bahwa kemerdekaan itu sesungguhnya bukan milik siapa-siapa, atau bisa diberi oleh bangsa-bangsa penjajah kepada taklukannya, karena kemerdekaan itu sesungguhnya sudah melekat ke hakekat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, memperjuangkan kemerdekaan itu sesungguhnya memperjuangkan hak-hak azasi manusia yang dirampas secara tidak adil. Secara tidak langsung, perjuangan itu juga berarti menegakkan kedaulatan Tuhan atas umat ciptaaNya, yang dijadikanNya menurut gambaranNya sendiri. Dengan kata lain, penjajahan tidak saja menghina manusia tetapi juga Tuhan yang menciptakan manusia dan menganugerahkan kebebasan kepadanya. Seratus persen orang Indonesia, seratus persen orang Katolik Di antara banyak pahlawan bangsa yang gugur, walaupun kecil umat Katolik Indonesia turut menampilkan beberapa nama besar yang memberi sumbangan tidak kecil. Pejuang-pejuang nasional beriman Katolik yang dikenal antara lain Ignatius Slamet RIjadi, Agustinus Adisufjipto, Yosaphat Sudarso, Mgr. Soegijapranoto, dan lain-lain. Beberapa tokoh Katolik juga turut serta meletakkan dasar politik demokrasi bagi bangsa ini, seperti I.J. Kasimo dan Frans Seda. Peranan mereka yang mengutamakan kemajuan dan kesejahteraan seluruh bangsa merupakan gema langsung dari ucapan Soegijapranoto yang terkenal: "Jadilah seratus persen orang Katolik dan seratus persen orang Indonesia." Dengan kata lain, setiap warga Gereja yang baik haruslah memiliki jiwa patriot, mencintai bangsanya dengan sepenuh hati, dan turut serta dalam pembangunan masyarakat, demi kesejahteraan bersama seluruh warga negara, tanpa memperhatikan perbedaan latar belakang. Memperhatikan situasi bangsa saat ini, terutama di dalam kegalauan politik, ekonomi dan sosial, harapan para pendiri bangsa harus kembali terus didengungkan, yakni membangun kesatuan di atas keanekaan. Semboyan nasional, "Bhinneka Tunggal Ika", perlu diresapkan ke dalam hati semua warga negara, sehingga identitas bangsa yang diperjuangkan dengan darah, keringat dan air mata ini, tidak tenggelam sia-sia oleh ideologi-ideologi fasis sektarian yang mengancam kesatuan bangsa dan negara. Sebagai orang Kristiani, sebuah sumbangan yang perlu diperhatikan, yakni terus menerus mendoakan bangsa dan negara, agar menjadi naungan yang memberi rasa aman bagi setiap orang, agar warga negara dapat hidup sebagai pribadi umat Tuhan yang bermartabat. |
|
|||
Semua jadi "orang indonesia" Walaupun perayaan ini diadakan dalam Bahasa Inggris dan dihadiri oleh umat dari berbagai bangsa dan negara, semua orang dengan penuh sukacita mengambil bagian dalam acara-acara yang disiapkan. Banyak umat malah menggunakan pakaian merah dan putih sebagai sebuah penghargaan atas hari besar tersebut. Untuk menghantar persembahan, secara khusus diminta enam orang dari enam negara yang berbeda, untuk mencerminkan warna internasional di tempat ini. "Hari ini semua kita menjadi orang Indonesia", kata Rm. Aurelius di kata pembukaan perayaan tersebut. Makanan bufet sederhana disiapkan untuk seluruh hadirin setelah misa, dilengkapi dengan beberapa games untuk anak-anak dan orang dewasa. Di bawah bayangan bendera merah putih yang berkibar di depan Bible Centre, perayaan hari mengingatkan semua orang, bahwa kewajiban terhadap bangsa dan agama dapat disatukan di bawah satu bendera pemersatu, yakni Yesus Kristus. Perayaan di Bible Centre ini menjadi cerminan, bahwa di seputar Kristus, bangsa-bangsa yang berbeda dapat berhimpun dan membentuk kesatuan yang memberi tempat bagi semua orang. (ap) |
||||
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge |
|||