Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Maret 2014
  MASA PRAPASKAH
   
Kemalangan bisa diubah menjadi berkat, tergantung bagaimana kita membentuk pola pikir dan tanggapan kita.

SEJUMLAH novis SVD mengikuti program “live in” di tengah para pemulung di Bantar Gebang, Jakarta. Dalam refleksi laporan kepada para pendidiknya, seorang novis menulis sebagai berikut, “Bagi banyak orang, bau sampah itu busuk dan menjijikkan, tapi bagi para pemulung, bau sampah itu berarti rejeki. Deru truk pengangkut sampah itu adalah musik pembawa harapan. Di lingkungan yang dijauhi banyak orang ini, masih ada keceriaan anak-anak yang tak berdosa. Ternyata kegembiraan itu bisa ada di mana pun juga, tergantung bagaimana kita menilai pengalaman hidup.”

Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang kemalangan yang menimpa tokoh Perjanjian Lama, Yusuf, dan anak pemilik ladang dalam perumpamaan tentang para penggarap. Yusuf direndahkan martabanya dan dijual sebagai budak. Harkatnya dirampas oleh saudara-saudaranya sendiri. Akan tetapi, di akhir perjalanannya itu, yakni Mesir, Yusuf kemudian menjaid berkat bagi saudara-saudaranya, ketika kelaparan melanda seluruh Kanaan. Ia bahkan berperanan besar di dalam meletakkan dasar bagi bangsa Isarel yang di kemudian hari meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Moses.

Pada kisah lain, penolakan orang Yahudi atas diri Yesus juga memiliki nuansa yang sama, namun itu sama sekali tak menunjukkan bahwa Yesus tidak berarti, karena di sisi lain orang-orang menerimanya sebagai Penyelamat. “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”, kata Yesus. Penolakan oleh orang Israel berubah menjadi berkat bagi orang-orang lain.

Kedatangan Yesus bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi untuk semua bangsa manusia. Keselamatan itu ditawarkan kepada kita semua, tetapi apakah keselamatan itu meresap di dalam hati kita sangat bergantung pada tanggapan kita. Maka marilah kita menjadikan Yesus satu-satunya batu penjuru hidup kita. (ap)

  1. Pernahkah anda menolak atau meragukan Yesus? Mengapa?
  2. Apa yang menjadi batu penjuru hidup anda di saat itu?

(c) 2014 aurelius pati soge

REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
   
30 31      
  PEKAN KEDUA
 
Jumat, 21 Maret 2014

INILAH ANAKKU YANG KUKASIHI,
KEPADANYA AKU BERKENAN

   
   
   
 
Kej 37:3-4.12.13a.17b-28 | Mzm 105:16-21 | Mat 21:33-43.45-46

 

Lihat, tukang mimpi datang, marilah kita bunuh dia (Kej 37:3-4.12.13a.17b-28)

Israel lebih mengasihi Yusuf daripada semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itu anak yang lahir pada masa tuanya. Dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayah mereka lebih mengasihi Yusuf daripada semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepada Yusuf dan tidak mau menyapanya dengan ramah.
Pada suatu hari, pergilah saudara-saudara Yusuf menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf, "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinya mereka di Dotan. Dari jauh Yusuf telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka bermupakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain, "Lihat, tukang mimpi itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya dengan mimpinya itu!"
Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka. Sebab itu kata Ruben, "Janganlah kita bunuh dia!" Lagi kata Ruben kepada mereka, "Janganlah tumpahkan darah! Lemparkan saja dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia." Maksud Ruben, ia hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.
Baru saja Yusuf sampai pada saudara-saudaranya, mereka pun meannggalkan jubah Yusuf, jubah baha indah yang dipakainya itu. Lalu mereka membawa dia dan melemparkannya ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael yang datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladam. Mereka sedang dalam perjalanan mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu, "Apakah untungnya kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakah dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya pun mendengarkan perkataan itu.
Ketika saudagar-saudagar Midian itu lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

Mazmur Tanggapan (Mzm 105:16-21; R: 5a)

Ref: Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan.

  1. Ketika Tuhan mendatangkan kelaparan ke atas tanah Kanaan dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutusNyalah seorang mendahului mereka, yakni Yusuf yang dijual menjadi budak.
  2. Kakinya diborgol dengan belenggu, lehernya dirantai dengan besi, sampai terpenuhilah nubuatnya, dan firman Tuhan membenarkan dia.
  3. Raja menyuruh melepaskan dia, pengasa para bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya dan pengelola segala harta kepunyaannya.

Ini adalah ahli waris, mari kita bunuh dia (Mat 21:33-43.45-46)

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi. “Dengarkanlah perumpamaan ini, seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara juga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap, lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi para penggarap menangkap hamba-hamba itu: yang seorang mereka pukul, yang lain mereka bunuh, dan yang lain lagi mereka lempari dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula. Tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya tuan itu menyuruh anaknya kepada mereka, pikirnya, ‘Anakku pasti mereka segani.’ Tetapi ketika para penggarap melihat anak itu, mereka berkata seorang kepada yang lain; Ia adalah ahli waris! Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Maka mereka menangkap dia, dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukan dengan penggarap-penggarap itu?” Kata imam-imam kepala dan tua-tua itu kepada Yesus, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu, dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain yang akan menyerahkan hasil kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru? Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu Aku berkata kepadamu, Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”
Mendengar perumpamaan Yesus itu, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkanNya. Maka mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Yesus nabi.




HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge