Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
November 2016
  MASA BIASA PEKAN 33
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
30 31 1 2 3 4
27 28 29 30 1 2 3
  Senin, 14 November 2016
   
 

TAK SEHELAIPUN DARI RAMBUT KEPALAMU AKAN HILANG, KALAU KAMU TETAP BERTAHAN KAMU AKAN MEMPEROLEH HIDUPMU

 
 
 
Why 1:1-4; 2:1-5a | Mzm 1:1-4b | Luk 18:35-43

Sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh, dan bertobatlah! (Why 1:1-4; 2:1-5a)

Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya Ia menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang akan segera harus terjadi. Maka Ia mengutus malaikat-Nya untuk menyatakan semuanya kepada Yohanes, hamba-Nya. Yohanes telah memberi kesaksian tentang sabda Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya. Berbagialah orang yang membacakan dan mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang tertulis di dalamnya sebab waktunya sudah dekat.
Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Dia yang ada kini, dulu dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya dan dari Yesus Kristus, menyertai kalian. Tuhan bersabda kepadaku, “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus, yang memegang ketujuh bintang di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas. Dia bersabda: Aku tahu segala pekerjaanmu, baik jerih payah maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak sabar terhadap orang-orang jahat. Engkau telah menguji orang-orang yang menyebut diri rasul, padahal mereka bukan rasul. Engkau telah mendapati, bahwa mereka pendusta. Engkau tetap tabah dan sabar. Engkau menderita sengsara demi nama-Ku dan tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasih-Mu yang semula. Sebab itu sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah apa yang kau lakukan semula.”

 

KETIKA akan menjalankan tahun orientasi pastoral sebagai frater, calon imam, saya melamar untuk menjadi guru di beberapa sekolah yang dikelola oleh misionaris SVD. Saya berpikir profesi guru itu yang sesuai untukku. Ternyata oleh para pembina saya ditempatkan di redaksi DIAN, surat kabar mingguan yang juga dikelola oleh misionaris SVD. Dengan agak jengkel dan ogah-ogahan saya berangkat ke tempat tersebut. Ternyata di sini saya belajar banyak hal yang praktis membentuk karakter misi jurnalistik saya hingga hari ini. Ketika dikunjungi oleh pembina yang menempatkan diriku dulu, ia tersenyum-senyum melihat kegembiraanku. "Dirimu punya potensi, hanya saja tidak kausadari", katanya.

Orang yang duduk di gerbang Yerikho itu sesungguhnya punya segala- galanya untuk disebut sebagai hamba Tuhan. Ia beriman, ia mendengar dan langsung menanggapi, ketika tahu, bahwa yang sedang lewat di tempat itu adalah Yesus, orang Nazaret yang terkenal itu. Dengan sekuat tenaga ia berseru memanggilNya, tidak peduli dengan teguran dan larangan orang lain yang mungkin merasa, bahwa orang buta itu tidak penting. Namun usaha yang tak kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil. "Tuhan, semoga aku melihat", katanya kepada Yesus. "Melihatlah, imanmu telah menyelamat- kan engkau", kata Yesus. Hanya satu intervensi Tuhan, ia mampu melihat. Sejak itu hidupnya berubah. Ia mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Ia menjadi murid Sang Guru. Ia menjadi manusia baru yang bisa bersaksi tentang karya agung Tuhan.

Semua kita memiliki potensi untuk menjadi utusan Tuhan. Ada banyak peluang misi pewartaan Injil yang ada di sekitar kita. Ada orang-orang muda yang mengembara tanpa pegangan. Ada anak-anak jalanan, para pemulung dan pelaku ekonomi informal, ada banyak kelompok khusus lainnya. Kita hanya perlu membuka mata dan melihat dengan baik, siapa dan di mana orang-orang yang membutuhkan campur tangan Tuhan tersebut. Maka yang kita perlukan ialah hati yang peka, mata iman yang tajam, dan kerelaan untuk turut berbagi rasa dengan kaum yang mencari Tuhan tersebut. Doa dan harapan hendaknya selalu kita naikkan ke hadirat Tuhan, agar Ia sudi mencelikkan mata kita, sehingga kita lebih mampu melihat Tuhan dalam diri sesama dan melayani mereka dengan baik. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, semoga Engkau menyembuhkan mata iman kami, agar kami melihat kehendakMu dan melaksanakannya. Amin!

(c) 2016 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 1:1-4b; R: Why 2:7b)

Ref: Barangsiapa menang akan Kuberi makan buah pohon kehidupan.

  1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
  2. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
  3. Bukan demikianlah orang-orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
 

Apa yang kau inginkan Ku perbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat (Luk 18:35-43)

Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis. Karena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Ada apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus, orang Nazaret, sedang lewat.” Maka si buta itu berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin kuat ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka Yesus pun berhenti dan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya. Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat!” Maka Yesus berkata, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Pada saat itu juga ia melihat lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge